AS ingin gulingkan rezim Iran, pakar bongkar alasan Teheran tak mudah ditaklukkan
Upaya Amerika Serikat (AS) untuk menekan hingga menggulingkan rezim Iran dinilai tidak akan berjalan mudah.
Pakar Hubungan Internasional BINUS University Tia Mariatul Kibtiah menyebut Iran memiliki karakter politik dan masyarakat yang berbeda dari Irak.
Perbedaan tersebut membuat strategi yang pernah digunakan AS untuk menghadapi negara-negara tersebut tidak bisa begitu saja diterapkan di Iran.
Tia menilai sistem politik Iran memiliki fondasi yang lebih kuat dengan posisi Supreme Leader dan konsep Wilayat al-Faqih yang masih mendapat dukungan signifikan dari masyarakat.
Menurutnya, keberadaan oposisi di Iran memang ada, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kekuatan yang mampu menggoyahkan pemerintahan Teheran.
Kondisi itu berbeda dengan Irak pada era Saddam Hussein yang menghadapi persoalan politik dan ketegangan antara kelompok penguasa dengan mayoritas masyarakatnya.
Selain faktor politik domestik, posisi geografis Iran juga menjadi tantangan besar bagi AS jika ingin melancarkan serangan besar-besaran.
Iran berada di kawasan strategis dan berdekatan dengan sejumlah negara Teluk yang memiliki hubungan erat dengan AS.
Serangan terhadap Iran berisiko memicu serangan balasan ke pangkalan militer AS maupun kepentingan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Tia juga menilai tekanan ekonomi dan militer yang dialami Iran belum membuat negara tersebut kehilangan kemampuan untuk melakukan perlawanan.
Bahkan, Iran masih menunjukkan kemampuan melakukan retaliation terhadap serangan yang dilancarkan AS dan Israel.
Di sisi lain, keberadaan Iran juga memiliki arti strategis bagi Rusia dan China dalam menjaga keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Seperti diketahui, Tia Mariatul Kibtiah mengatakan Iran memiliki karakter politik, masyarakat, dan geopolitik yang berbeda dengan negara-negara tersebut.
Karena itu, menurutnya, apabila tujuan akhir tekanan terhadap Iran adalah mengganti pemerintahan Iran dengan rezim yang lebih sesuai dengan kepentingan AS dan Israel, strategi tersebut akan sulit diwujudkan.
“Amerika Serikat lupa Iran itu beda dengan Irak,” kata Tia, dalam dialog Sapa Indonesia Pagi KOMPASTV, Senin (3/8/2026) ketika membahas keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan rencana serangan besar ke Iran.
Menurut Tia, konflik yang berlangsung saat ini tidak hanya berkaitan dengan program nuklir Iran ataupun penguasaan Selat Hormuz.
Ia menilai terdapat persoalan lebih besar terkait keinginan untuk mengganti pemerintahan Iran dengan rezim yang dapat diterima AS dan Israel.
Tia membandingkannya dengan perubahan pemerintahan yang pernah terjadi di Irak, Libya, dan Suriah.
Namun, ia menilai pendekatan serupa tidak bisa begitu saja diterapkan terhadap Iran.
Salah satu perbedaannya terletak pada sistem politik dan kondisi masyarakat Iran.
"Iran itu pemimpinnya adalah sistemnya supreme leader. Wilayat al-Faqih dipimpin solid oleh rakyatnya. Ada oposisi? Ada, tapi tidak signifikan," ujarnya.
Menurut Tia, kondisi tersebut berbeda dengan Irak ketika masih dipimpin Saddam Hussein.
Ia menggambarkan Saddam sebagai pemimpin Sunni yang diktator, sementara sebagian besar masyarakat Irak merupakan kelompok Syiah.
Kondisi politik domestik seperti itu, menurutnya, membuat situasi Irak saat itu tidak bisa disamakan dengan Iran sekarang.
"Ini bukan Irak, ini bukan Libya, bukan Suriah yang mudah ditumbangkan karena memang sebagian rakyatnya tidak mendukung. Saddam Husein kan diktator, dia Sunni tapi kebanyakan rakyat (Irak) juga Syiah dan memang tidak suka dengan kediktatoran Saddam Husein," kata Tia.
Karena itu, ia menilai AS seharusnya mempelajari lebih dalam sistem politik dan karakter masyarakat Iran sebelum menganggap tekanan militer dapat dengan mudah menggoyahkan pemerintahan Teheran.
“Saya sih sebaiknya Trump harus lebih menginvestigasi, melakukan riset lah kalau mau menumbangkan rezim itu. Karena sistem yang dibangun oleh Iran itu berbeda,” ujarnya.
Ia juga menyoroti karakter masyarakat dan kultur Persia sebagai faktor yang menurutnya perlu diperhitungkan AS.
“Bagaimana kultur Persia, memang tidak pernah takluk,” ujar Tia.
Posisi Geografis Iran Jadi Persoalan
Selain faktor politik domestik, posisi geografis Iran juga membuat negara tersebut berbeda dengan Irak, Libya, maupun Suriah.
Iran berbatasan dan berdekatan dengan sejumlah negara yang memiliki hubungan erat dengan AS.
Konsekuensinya, serangan besar terhadap Iran berpotensi menyebarkan dampak keamanan ke seluruh kawasan.
Pangkalan militer AS di negara-negara Teluk juga dapat menjadi sasaran ketika Iran melakukan pembalasan.
“Iran itu letak negaranya juga strategis. Dia mau diserang, kena itu kan border-nya negara-negara Teluk, negara-negara lain yang memang berafiliasi ke Amerika Serikat. Rugi mereka juga,” ujar Tia.
Risiko tersebut menjadi salah satu alasan negara-negara Teluk mendorong AS menahan diri dan mencegah perang semakin luas.
Eskalasi konflik juga dapat mengancam fasilitas energi dan jalur perdagangan yang menjadi tulang punggung perekonomian kawasan.
Iran Dinilai Tak Akan Berhenti Melawan
Perbedaan lainnya terlihat dari kemampuan Iran untuk terus melakukan serangan balasan atau retaliation.
Tia menilai kemerosotan ekonomi maupun militer tidak serta-merta membuat Iran menghentikan perlawanannya terhadap AS dan Israel.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim kekuatan Iran telah sangat melemah dan tidak lagi memiliki kemampuan angkatan laut maupun udara seperti sebelumnya.
Namun Tia mempertanyakan anggapan bahwa pelemahan tersebut otomatis membuat Iran dapat ditundukkan.
Menurutnya, Iran memang mengalami tekanan dan kemerosotan, termasuk dari sisi ekonomi.
Namun kondisi itu berbeda dengan anggapan bahwa Iran telah mencapai titik terendah dan tidak mampu lagi melakukan perlawanan.
“Betul memang ada kemerosotan secara ekonomi, tapi bukan berarti juga sampai ke titik nadir, tidak ada. Buktinya kan masih terus melakukan retaliation,” katanya.
Iran Menjaga Kesimbangan Timur Tengah
Tia menilai posisi Iran semakin sulit disamakan dengan Irak karena Iran juga memiliki arti strategis bagi Rusia dan China.
Menurutnya, kedua negara berkepentingan mempertahankan keberadaan Iran sebagai kekuatan yang dapat menjaga keseimbangan di Timur Tengah.
Tia mengatakan Iran menjadi salah satu negara yang mampu mengimbangi dominasi AS di kawasan tersebut.
"Iran itu satu-satunya negara di Timur Tengah yang menciptakan keseimbangan, bagaimana Amerika Serikat tidak bisa lagi menguasai Timur Tengah secara keseluruhan. Bagaimana meng-counter hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah," katanya.
"Bayangkan kalau Iran tidak ada di kawasan Timur Tengah, apa yang akan terjadi dengan tatanan global ini? Hancur sudah."
"Karena apa? Keseimbangan itu perlu dalam tatanan studi HI (Hubungan Internasional). Balance of Power itu satu teori di HI yang menyatakan bahwa keseimbangan kekuasaan dalam dua aliansi besar akan menciptakan perdamaian."
"Jadi memang (Iran) harus ada. Kalau tidak, tatanan global hancur. Kalau Iran hancur, hancur semua."
Sementara itu, pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf juga menilai Rusia dan China berkepentingan menjaga Iran tetap kuat.
Ia menduga dukungan tersebut tidak harus dilakukan melalui keterlibatan langsung dalam perang.
Menurut Faisal, dukungan dapat diberikan melalui informasi intelijen maupun akses citra satelit yang membantu Iran mengetahui pergerakan aset militer AS.
Tia pun memperkirakan Rusia dan China tidak akan menunjukkan dukungan secara terbuka selama kepentingan mereka belum terganggu.
“Selama kepentingan nasional mereka tidak terusik, bisnis mereka tidak terusik, mereka tidak akan memperlihatkan bahwa mereka mendukung Iran langsung ke permukaan,” ujar Tia.


0 Response to "AS ingin gulingkan rezim Iran, pakar bongkar alasan Teheran tak mudah ditaklukkan"
Posting Komentar